Tuesday, August 12, 2014

Perjalanan Ingrid Mattson, Profesor Amerika Menemukan Wajah Islam

Ingrid Mattson dibesarkan di lingkungan Kristen di Kitchener, Ontario, Kanada. Ayahnya seorang pengacara, sementara ibunya bekerja di rumah membesarkan ketujuh anaknya. Pada usia 16 tahun Mattson mendapat hidayah Ilahi. Akal sehat dan hati nuraninya tidak bisa meyakini doktrin-doktrin yang diajarkan gereja. Ia pun berhenti dari aktivitas di gereja.
Di University of Waterloo pada pertengahan tahun 1980 dia mempelajari seni dan filsafat, yang menekankan kebebasan seseorang untuk memilih. Di sinilah ia menemukan bekalnya mengambil pilihan penting dalam hidupnya: Islam.

“Setahun sebelum masuk Islam, saya banyak menghabiskan waktu untuk mencari dan melihat hal-hal yang berhubungan dengan seni. Saat mengikuti pendidikan bidang filsafat dan seni rupa, saya duduk berjam-jam dalam ruang kelas yang gelap untuk melihat dan mendengarkan penjelasan profesor saya melalui proyektor in focus. Profesor menjelaskan tentang kehebatan hasil karya Seni Barat,” paparnya seperti dikutip situs whyislam.org.

Pada tahun 1988-1989 Mattson menjadi relawan sosial dan pendidikan anak-anak pengungsi Afghanistan. Di sana ia bekerja keras memperbaiki kondisi orang-orang terusir yang hidup di kamp pengungsi di Peshawar, Pakistan.

Saat bekerja di kamp pengungsi di Pakistan inilah ia bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya, Amer Aetak, seorang insinyur dari Mesir. Dari pernikahan mereka, pasangan ini dikaruniai seorang anak perempuan bernama Soumayya dan satu orang anak laki-laki bernama Ubayda.
Pada 1995, ia ditunjuk sebagai penasihat bagi delegasi Afghanistan untuk PBB bagi Komisi yang membidangi Status Perempuan.

Mattson meraih gelar sarjana dalam bidang filsafat dari Universitas Waterloo, Ontario, pada 1987. Sementara gelar PhD pada studi Islam ia peroleh dari Universitas Chicago pada 1999 di bidang studi Islam di University of Chicago dengan disertasi mengenai Hukum Islam dan Masyarakat. Selama kuliah di Chicago, ia banyak terlibat pada kegiatan komunitas Muslim lokal.

Saat ini, profesor studi Islam di Hartford Seminary ini sibuk mengajar, melakukan penelitian, dan berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Ia menjabat sebagai Presiden ISNA (Islamic Society of North America), sebuah organisasi komunitas Islam di Amerika Utara. ISNA adalah organisasi berbasiskan komunitas Muslim terbesar di AS.
Mattson juga duduk di jajaran Direktur Universal School di Bridgeview dan anggota komite Interfaith Committee of the Council of Islamic Organizations of Greater Chicago.

Awal Mula Melihat Wajah Islam

Di Universitas Waterloo, Ontario, ia sempat bekerja pada bagian Departemen Seni Rupa, yang salah satu tugasnya mempersiapkan presentasi (slide) dan katalog seni. Karenanya setiap kali masuk ke perpustakaan, menurut Mattson, ia selalu mengumpulkan buku-buku seni sejarah. Dan untuk mendapatkan bahan-bahan guna keperluan pembuatan katalog seni, ia terpaksa harus pergi ke museum yang ada di Toronto, Montreal, dan Chicago.

Bahkan, ia harus merelakan menghabiskan liburan musim seminya di dalam Museum Louvre yang berada di tengah Kota Paris. Saat berada di Paris inilah untuk kali pertama dalam hidupnya Mattson berjumpa dengan seorang Muslim. Ia menyebut momen tersebut sebagai ‘the summer I met Muslims’.
”Saya selalu terkenang akan peristiwa ini,” ungkapnya. Apa yang dicarinya selama ini, ungkap Mattson, hanya berkaitan dengan semua karya seni yang tergambar dalam bentuk visual. Peradaban Barat memang dikenal memiliki tradisi menggambarkan sesuatu dalam bentuk visual, termasuk penggambaran mengenai keberadaan Tuhan.

”Kita banyak membuat kesalahan dengan berpikir bahwa melihat berarti mengenali, dan semakin terekspos seseorang itu, maka semakin pentinglah orang tersebut.” Namun, akhir dari pencariannya tentang seni telah membawa Mattson bertemu dengan dua orang seniman, laki-laki dan perempuan, yang tidak membuat patung dan lukisan sensual tentang Tuhan. ”Mereka telah mengenali Tuhan dengan cara yang berbeda, menghargai pemimpin, dan menghargai hasil kerja seorang wanita.”

Gambaran mengenai Islam yang ia dapatkan dari kedua orang teman barunya ini, membawa Mattson pada pengenalan wajah Islam yang semakin baik. Ia menyatakan, peradaban Islam tidak menganut sistem penggambaran sesuatu dalam bentuk visual di dalam mengingat dan Memuji Tuhan dan menghargai seorang Nabi.

”Allah adalah sesuatu yang tersembunyi. Tersembunyi dalam pantulan mata umat manusia. Tetapi, orang yang memiliki penglihatan dapat mengenali Tuhannya dengan melihat, mempelajari pengaruh dari kekuatan ciptaan-Nya.” Selain penggambaran terhadap Tuhan, umat Islam juga melarang penggambaran terhadap semua Nabi Allah.

Umat Islam hanya menuliskan nama mereka dalam bentuk kaligrafi. Kata-kata, tulisan, dan ucapan serta akhlak mulia dalam kehidupan merupakan media utama bagi Muhammad di dalam menyebarkan pengaruhnya ke seluruh umatnya. Dari sinilah kemudian Mattson mulai tertarik untuk mempelajari keyakinan yang dianut oleh kedua temannya yang asal Senegal ini.

Ia pun mulai menggali tentang ketuhanan dan kepribadian Muhammad melalui Alquran terjemahan. Setelah banyak mempelajari lebih jauh mengenai Islam dari Alquran, Mattson akhirnya menyadari dan yakin adanya Allah. ”Pilihan-pilihan Anda mencerminkan siapa diri Anda. Meski ada keterbatasan, tapi selalu tersedia kesempatan untuk memilih yang terbaik,” katanya.

Yang membuatnya semakin tertarik dengan Islam adalah semua umat Muhammad tidak hanya mengikutinya dalam hal beribadah, tetapi juga di dalam semua aspek kehidupan, mulai dari kebersihan diri sampai pada cara bersikap terhadap anak-anak dan tetangga. Semua perbuatan, perkataan, dan perilaku Nabi SAW inilah yang disebut dengan sunnah.

Dan pengaruh Sunah Nabi Muhammad tersebut telah tergambar pada kehidupan para orang tua, muda, kaya, miskin, yang menjadikannya sebagai suri teladan bagi semua pengikutnya. ”Pertama kali saya menyadari pengaruh fisik dari Sunah Nabi Muhammad pada generasi muda Muslim adalah ketika suatu hari saya duduk di masjid, menyaksikan anak saya yang berumur 9 tahun shalat di samping guru mengajinya. Ubayda duduk di samping guru dari Arab Saudi yang dengan tekun dan lembut mengajarinya sehingga membuatnya sangat respek dan hormat,” tuturnya.

Indahnya Islam: Suka Berbagi dan Solidaritas

Perkenalan Ingrid Mattson tentang Islam makin bertumbuh saat ia berkunjung ke sejumlah negara yang mayoritas berpenduduk Muslim.
Beberapa peristiwa yang dia temui di negara-negara tersebut, diakui Mattson, makin mempertebal keyakinannya terhadap Islam. Lebih setahun, dalam perjalanannya ke negara-negara Muslim ini ia menyaksikan kesamaan keinginan untuk berbagi dan selalu saling memberi antara sesama serta kesamaan keyakinan yang mendalam.

”Makanan untuk dua orang cukup untuk tiga orang dan makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang,” jelasnya sambil mengutip hadis Nabi SAW.

Salah satunya adalah ketika ia mengunjungi Kosovo. Selama serangan Serbia ke Kosovo, banyak Muslim Albania yang menyediakan rumah mereka untuk para peng ungsi. Bahkan, satu orang memasak setiap harinya untuk 20 orang dalam rumah yang sederhana.

Begitu juga ketika ia menikah di Pakistan. Sebagai pekerja sosial pada kamp pengungsian, Mattson dan suami tidak memiliki cukup uang. Sekembalinya dari pernikahan ke kamp pengungsian, para wanita Afghanistan bertanya kepadanya tentang pakaian, perhiasan emas, cincin kawin, dan kalung emas yang diberikan oleh suami kepadanya sebagai mahar.

“Saya perlihatkan kepada mereka cincin emas sederhana dan saya ceritakan tentang baju pengantin yang saya pinjam untuk menikah. Wajah mereka langsung berubah menunjukan perasaan sedih dan simpati.

“Seminggu setelah peristiwa itu, saat ia sedang duduk di depan tenda kamp pengungsi yang berdebu, para wanita Afghanistan tersebut muncul lagi. Mereka datang menemuinya dengan membawa celana biru cerah terbuat dari satin dengan hiasan emas, sebuah baju berlengan merah dengan warna-warni dan scarfwarna biru yang tampak serasi dengan pakaian, sebagai hadiah per -nikahan.

“Semua yang saya lihat adalah hadiah pernikahan yang tak ternilai bagi saya, bukan saja dukungan mereka, tetapi pelajaran keikhlasan dan rasa empati yang mereka berikan yang merupakan buah yang sangat manis dari sebuah keyakinan yang benar”.

Dituding terlibat jaringan teroris Palestina

Nama Ingrid Mattson sempat menjadi topik pembicaraan hangat di berbagai media Barat ketika namanya masuk dalam daftar salah satu tokoh yang diundang pada inaugurasi Barack Obama setelah kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat itu menang dalam pemilu.

Sebagaimana dilansir kantor berita Associated Press (AP), Mattson yang menjabat presiden Komunitas Islam Amerika Utara (ISNA) merupakan salah satu pemimpin agama yang akan berbicara pada acara doa yang digelar di Cathedral Nasional di Washington DC sehari setelah pelantikan Obama sebagai presiden AS ke-44.

Undangan yang ditujukan kepada Mattson ini menuai kontroversi publik Amerika. Sebab, yang bersangkutan dicurigai jaksa federal terkait dengan jaringan teroris. Seperti diketahui, pada Juli 2007, jaksa federal di Dallas, mengajukan tuntutan kepada ISNA karena diduga memiliki jaringan dengan Hamas organisasi Islam di Palestina yang dikelompokkan Pemerintah AS sebagai organisasi teroris.

Namun, baik Mattson maupun organisasinya tidak pernah dihukum. Jaksa hanya menyatakan memiliki bukti-bukti dan kesaksian yang dapat menghubungkan kelompok tersebut ke Hamas dan jaringan radikal lainnya. Sebelumnya, Muslimah kelahiran Kanada tahun 1963 ini juga pernah membuat kejutan dengan melakukan pertemuan dengan pejabat tinggi Pentagon selama pemerintahan Bush. Dia juga hadir pada misa Konvensi Nasional Partai Demokrat di Denver saat Obama mencalonkan diri sebagai presiden.

Pemerintah AS dan ISNA sebenarnya memiliki hubungan kerja sama yang baik. Kelompok tersebut memberikan latihan agama kepada Biro Penyelidik Federal (FBI). Karen Hughes, orang kepercayaan Bush, mengatakan bahwa Mattson sebagai pemimpin yang hebat dan panutan bagi banyak orang. Mattson adalah seorang profesor studi Islam di Hartford Seminary di Hartford, Connecticut. [taz/rpb/voa-islam.net]

Martin Lings, Hidayah Allah untuk Sang Penyair

Menyebut nama Abu Bakr Siraj Ad-Din, mungkin tak banyak orang yang mengenalnya. Ketika disebut nama Martin Lings, tentu hanya sebagian umat Islam yang mengetahuinya. Namun, bagi kebanyakan pelajar, peneliti, dan tokoh muslim, nama Martin Lings sangat populer. Karena, tulisan dan karya-karyanya mampu memberi inspirasi banyak orang dalam mempelajari Islam. Padahal, sang penulis dulunya seorang pemeluk Kristen yang taat. Berkat hidayah Allah, ia pun memeluk Islam dan menjadi mualaf.

Salah satu karyanya yang sangat fenomenal berjudul Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik (Muhammad: His Life Based On The Earliest Sources), diterbitkan tahun 1983. Buku yang berisikan biografi Rasulullah SAW ini didedikasikan untuk pemimpin Pakistan, Zia ul-Haq.

Dengan gaya narasi (bertutur) yang halus dan mudah dipahami, Martin Lings mampu menghadirkan sebuah riwayat hidup dan perjalanan seorang tokoh inspiratif bagi dunia, yakni Nabi Muhammad SAW. Ia menulisnya dengan sangat detail dan mengagumkan.
Oleh banyak kalangan, buku ini dinilai sebagai salah satu buku biografi Rasulullah SAW yang terbaik dan pernah diterbitkan. Tentunya, hanya seseorang yang berkemampuan istimewa yang bisa menghasilkan sebuah buku yang berkualitas dan menyentuh. Itulah yang dilakukan Martin Lings karena kecintaannya pada Sang Uswatun Hasanah, Nabi Muhammad SAW.

Banyak sudah pembaca yang memuji karya cendekiawan Inggris ini. Orang menyebutnya tour de force, karya nan tiada bandingannya. Ditulis dari perspektif seorang cendekiawan-sejarawan yang juga mempraktikkan Islam dalam keseharian, buku tersebut cepat terkenal dan menjadi salah satu bacaan wajib mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa serta memperoleh sejumlah penghargaan dari dunia Islam.

Profesor Hamid Dabashi dari Columbia University mengungkapkan kekagumannya. ”Ketika membaca buku Muhammad karya Lings, kita akan bisa merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah syair. Lings adalah cendekiawan-penyair,” katanya.

Selain buku di atas, nama Martin Lings juga banyak dikenal dari berbagai karya-karyanya yang lain. Di antaranya adalah terjemahan teks Islam, puisi, seni, dan filsafat. Dari tulisan-tulisannya itu, Lings kerap disejajarkan dengan peneliti seni berkebangsaan Swiss-Jerman, Titus Burckhardt; tokoh filsuf abadi dan metafisikawan Prancis, Rene Guenon; serta cendekiawan Jerman, Fritjhof Schuon. Martin Lings sangat identik dengan seorang sufi yang gigih dalam menyebarkan Islam di Barat melalui tulisan-tulisan dan artikel-artikelnya yang tajam dan kritis.

Namun, hal yang paling berkesan dari Lings adalah keterkaitan karya dengan jiwa ihsan (keindahan dan kecemerlangan) yang dimilikinya. Ia mencurahkan jiwa dan hatinya dalam menghasilkan sebuah karya yang inspiratif, jelas, dan berkualitas.

Kini, sang tokoh sudah tiada. Pada 12 Mei 2005 lalu, Lings mengembuskan nafas terakhir dalam usia 96 tahun di kediamannya di kawasan Westerham, Kent County, Inggris. Umat Islam di seluruh dunia pun berkabung atas wafatnya penyair sufi modern terkemuka ini.

Berasal dari keluarga pemeluk Kristen Protestan, Lings lahir di Burnage, Lancashire, Inggris, pada 24 Januari 1909. Meski begitu, dia menghabiskan masa kecilnya di Amerika Serikat, mengikuti ayahnya. Ketika keluarganya kembali ke Inggris, dia didaftarkan ke Clifton College, Bristol. Kemudian, Lings melanjutkan pendidikannya di Magdalen College, Oxford. Ia belajar literatur Inggris dan memperoleh gelar BA tahun 1932. Tahun 1935, dia memutuskan pergi ke Lithuania untuk menjadi pengajar studi Anglo-Saxon dan Inggris Tengah di Universitas Kaunas.

Mengenal Islam

Pada tahun 1939, Lings datang ke Mesir mengunjungi seorang teman dekatnya yang kebetulan mengajar di Universitas Kairo. Temannya ini juga merupakan asisten filsuf Prancis, Rene Guenon. Akan tetapi, pada saat kunjungannya itu, sang teman meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Kemudian, Lings diminta untuk mengisi posisi yang ditinggalkan oleh temannya ini. Dia menerima tawaran tersebut.

Lings pun mulai aktif belajar bahasa Arab dan mempelajari Islam. Setelah banyak berhubungan dengan ajaran Sufi Sadzililiyah, dia berketetapan hati untuk masuk Islam. Sejak saat itu, ia menjadi pribadi baru dengan nama Abu Bakr Siraj Ad-Din.

Bagi Lings, Islam bukan hanya sekadar agama. Islam menjadi petunjuk hidup umat manusia. Ia sangat terkesan dengan Alquran dan pribadi Rasulullah SAW. Baginya, tak ada tokoh yang melebihi Nabi Muhammad SAW, baik dalam akhlak maupun kepribadiannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, bukunya yang berjudul Muhammad, Kisah Hidup Nabi merupakan salah satu bukti kecintaannya kepada Rasulullah SAW.

Komitmennya dalam Islam terbawa sepanjang hayat. Bahkan, sepuluh hari sebelum meninggal dunia, Lings masih sempat menjadi pembicara di depan tiga ribu pengunjung pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang bertajuk Bersatu untuk Sang Nabi yang diadakan di Wembley, Inggris. Lings mengatakan, itu adalah pertama kalinya dia berbicara mengenai makna kehidupan Nabi Muhammad SAW dalam waktu 40 tahun.

Setelah masuk Islam, Lings makin dekat dengan Rene Guenon yang juga sudah memeluk Islam. Dia lantas menjadi asisten pribadi serta penasihat spiritual Guenon.

Pada saat tinggal di Mesir, ia menikah dengan Lesley Smalley. Keduanya lantas tinggal di sebuah kamp pengungsi di dekat piramid. Namun, ketika revolusi anti-Inggris oleh kaum nasionalis yang berujung pada kerusuhan melanda Mesir, Lings memutuskan kembali ke Inggris pada 1952.

Sekembali dari negara di kawasan Afrika ini, ia melanjutkan pendidikan ke School of Oriental and African Studies, London, hingga mendapat gelar doktor. Tesisnya mengenai seorang sufi terkenal asal Ajazair, Ahmad al-Alawi, yang kemudian ia terbitkan menjadi sebuah buku dengan judul A Sufi Saint of the Twentieth Century. Sementara itu, sang istri yang berprofesi sebagai psikoterapis bekerja sesuai bidangnya itu.

Kemudian, tahun 1955, dia bekerja sebagai asisten ahli naskah kuno dari kawasan Timur pada British Museum. Pekerjaan itu dilakoninya hingga hampir dua dasawarsa.

Tahun 1973, Lings merangkap kerja di British Library, di mana dia memfokuskan perhatiannya terhadap kaligrafi Alquran. Beberapa tahun kemudian, dia memublikasikan karya klasiknya pada subjek yang sama, yaitu The Qur’anic Art Of Calligraphy And Illumination, bertepatan dengan penyelenggaraan Festival Dunia Islam tahun 1976.

Sejak itu, Lings pun mulai menulis secara teratur. Karya-karyanya, selain sufisme dan buku-buku lainnya, meliputi artikel mengenai tasawuf pada terbitan Cambridge University, Religion in the Middle East dan The Eleventh Hour: The Spiritual Crisis of the Modern World in the Light of Tradition and Prophecy, serta banyak artikel untuk jurnal kuartalan, Studies in Comparative Religion. Jurnal itu turut andil dalam memperluas cakrawala dunia Barat dalam memahami ketinggian Islam.

Pengagum Shakespeare

Selain berkutat dalam bidang filsafat, Lings juga berkiprah di bidang seni. Kiprah awalnya di bidang seni dimulai pada tahun 1944 dengan memproduksi sandiwara Shakespeare. Para pemainnya tak lain adalah para muridnya sendiri.

Ia memang senang mempelajari karya-karya pujangga itu. Ketertarikannya pada karya-karya Shakespeare lantas membawanya, sekitar 40 tahun kemudian, membuat buku berjudul The Sacred Art of Shakespeare: To Take Upon Us the Mystery of Things. Sebagai bentuk penghargaan terhadap karya-karya Lings, Putra Mahkota Kerajaan Inggris Pangeran Charles pun bersedia memberikan kata pengantar dalam buku ini.

Dalam kata pengantarnya, Pangeran Charles menulis, ”Kejeniusan khusus yang dimiliki Lings terletak pada kemampuannya untuk menyampaikan, seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain sebelumnya. Teks-teks dasar yang ia sajikan dalam karya teater ini telah meninggalkan kesan yang mendalam, tidak hanya kepada para pecinta karya seni, tetapi juga kepada para pembaca awam.” [nidia zuraya]

Cindi Claudia : Hidayah Dari Bulan Dan Bintang

Allah SWT memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki. Begitulah yang terjadi pada diri Cindy Claudia Harahap, putri sulung dari musisi veteran Rinto Harahap. Saat usia belasan tahun, Cindy terombang-ambing hidup di tengah-tengah keluarga Muslim dan non-Muslim. Keluarga ayahnya non-Muslim sementara keluarga dari ibu beragama Islam. Suatu saat, sekitar tahun 1991, penyanyi kelahiran Jakarta, 5 April 1975 ini sedang tiduran tengah malam di atas rumput halaman asrama di Australia.

Saat itu, Cindy bersama sahabat karibnya yang juga artis papan atas Indonesia, Tamara Blezinsky, sedang menempuh pendidikan di St Brigidf College. Setiap hari mereka ngobrol karena hanya mereka berdua orang Indonesia. Mereka juga mempunyai kondisi yang sama tentang orang tua. Suatu malam Cindy benar-benar diperlihatkan keagungan Allah. Ketika memandang ke langit yang cerah terlihat bulan sabit yang bersebelahan dengan bintang yang indah sekali.

”Saya bilang sama Tamara, kayaknya saya pernah lihat ini di mana ya, kok bagus banget. Kayaknya lambang sesuatu, apa ya?”, kenang penyanyi dan pencipta lagu ini. Tamara menjawab kalau itu lambang masjid. ”Jangan-jangan ini petunjuk ya kalau kita harus ke masjid,” jawab Cindy selanjutnya. Ia memang jarang sekali melihat masjid selama di Australia. Cindy pun berfikir dan mengajak Tamara masuk Islam.

”Suatu hari saya terpanggil untuk memeluk agama Islam,” kata sulung tiga bersaudara. Setelah kembali ke Indonesia, Cindy dan Tamara pun lama berpisah. Saat kemudian bertemu di Jakarta, ternyata mereka sudah sama-sama menjadi mualaf. Pelantun tembang melankolis ini mengungkapkan inti dirinya masuk Islam lebih pada panggilan jiwa dan hati. Karena, lanjutnya, orang memeluk agama itu sesuatu yang tidak bisa dipaksakan, tergantung masing-masing orang.

Selain dari diri sendiri adakah pihak lain yang mempengaruhi? Cindy mengatakan selain mamanya juga Mas Thoriq (Thoriq Eben Mahmud, suaminya). Dari awal saat pacaran, Cindy banyak belajar tentang Islam dari Thoriq, laki-laki keturunan Mesir. Mereka sering berdiskusi dan Thoriq pun menjelaskan dengan bijaksana dan kesabaran. Menurut Cindy, Thoriq tidak pernah memaksanya bahkan dia sering membelikan buku-buku tentang Islam.

”Terkadang kayak anak TK dibelikan juga buku cerita yang bergambar. Tapi justru jadi tertarik, sampai akhirnya saya dibelikan Alquran dan benar-benar saya baca apa artinya,” tutur artis yang menikah 4 juli 1998. Cindy melisankan Dua Kalimat Syahadat di hadapan seorang guru agama Islam SMA 34 Jakarta. ”Di sebuah tempat yang sangat sederhana, tepatnya di mushalla kecil sekolah itu, saya mulai memeluk Islam,” katanya.

Dalam proses mempelajari Islam, istri mantan pilot Sempati ini mengakui tidak menghadapi banyak kendala yang berarti, cuma memang harus menyesuaikan diri. Cindy sudah terbiasa melihat ibadah keluarganya yang beragama Islam. Bahkan sebelum masuk Islam, ia sudah sering ikut-ikutan puasa.

Dalam belajar mengaji, Cindy mendatangkan ustad ke rumah. Pada awalnya memang ada kesulitan, tapi akhirnya bisa berjalan lancar. Cindy mengatakan, keluarganya sangat toleran terhadap agama karena pada dasarnya semua agama itu sama, mengajarkan yang baik hanya caranya yang berbeda-beda. ”Papa pernah bilang apapun agama yang saya putuskan untuk dianut itu terserah.

Yang penting dilaksanakan dengan sungguh-sungguh,” ujar artis yang sedang syuting sinetron untuk Ramadhan mendatang. Sebelumnya, Cindy sempat berfikir menjadi Muslimah sepertinya repot sekali. Kalau mau masuk masjid untuk shalat, misalnya, harus wudhu dan harus pakai mukena dulu. ”Mau shalat saja harus repot. Apalagi ada bulan Ramadhan yang harus puasa.

Saya sempat berfikir kalau Islam agama yang repot,” ujar ibu dua anak bernama Sabrina Aisya Putri dan Aprilia Omar Syarif ini. Setelah mempelajari Islam dengan benar, Cindy menyadari itulah kelebihan Islam bila dibandingkan dengan agama lain. ”Kalau kita hendak menghadap Allah, kita harus benar-benar dalam kondisi yang bersih.

Bersih jiwa dan bersih diri,” tuturnya. Cindy mengungkapkan, alangkah bahagianya kita sebagai umat Islam dikasih bulan ramadhan, di mana kita diberi kesempatan untuk membenahi diri. ”Menurut saya, bulan Ramadhan itu bulan bonus dan setiap tahun saya merasa kangen dengan Ramadhan”.

Selama ini Cindy selalu berusaha membagi waktu sebisa mungkin tidak meninggalkan ibadah. ”Kalau kita ada waktu ya ibadah harus dilakukan. Cuma saya tidak munafik, sebagai manusia masih harus berusaha agar ibadah tidak bolong dan tetap lancar,” penyanyi yang sudah menelorkan enam album ini menuturkan. Ia mengakui bila jadwal syuting padat, ibadah shalat suka terlewatkan.

Tapi bila sedang berada di rumah, bersama suami menunaikan shalat jamaah. Cindy pun sejak dini memperkenalkan kepada anaknya kehidupan agama dengan memasukkan anak pertamanya ke TPA (Tempat Pendidikan Alquran) di masjid dekat rumah. Cindy mengisahkan beberapa bulan setelah menikah diberi hadiah pernikahan oleh mertua berupa umrah bersama suami.

Ia merasa sangat berkesan saat pertama melihat Ka’bah karena sebelumnya hanya disaksikan lewat televisi atau gambar saja. Waktu itu, Cindy berangkat umrah bulan Ramadhan dan ia sedang hamil enam bulan. Cindy mengaku justru bisa menunaikan ibadah puasa di sana yang tadinya di Jakarta tidak bisa puasa. ”Alhamdulillah, sampai di sana tidak ada kendala atau kejadian buruk apapun,” kata penyanyi yang sedang mempersiapkan album bernuansa dakwah.[gemainsani.co.id]

Perjalanan Rohani Sang Putri Inggris menjadi Muslimah

Ia tertarik dengan Islam karena sikap pemeluknya yang santun dan terbiasa dengan hidup sehat.

Menjadi mualaf di negara mayoritas non-Muslim, dibutuhkan perjuangan dan kesabaran ekstra untuk menghadapi setiap tantangan. Bila tak kuat, bukan tak mungkin, Islam hanya akan menjadi olok-olokan dan cemoohan banyak orang. Namun, bila berhasil menaklukkan tantangan itu, cahaya Islam akan senantiasa menyinari setiap sanubari manusia.

Situasi seperti inilah yang dialami Lucy Bushill-Matthews, perempuan asli Inggris yang telah menjadi Muslimah selama 16 tahun. Perkenalan Lucy dengan Islam terbilang sangat sederhana. Dalam buku memoirnya yang berjudul Welcome to Islam, ibu dari tiga orang anak ini menuturkan kisah perjalanan hidupnya dalam menemukan Islam.

Saat itu, usianya baru menginjak 16 tahun. Oleh kedua orang tuanya yang asli Inggris, ia dimasukkan ke sekolah berasrama (boarding school) tradisional Inggris.

Sebelumnya, Lucy selalu menempuh pendidikan di sekolah khusus perempuan yang siswanya beragama Kristen. Di sekolah baru ini siswanya campur, laki-laki dan perempuan.

Saat mengenyam pendidikan di sekolah barunya inilah, Lucy berkenalan dengan Julian, seorang pemuda Muslim berdarah campuran Inggris-Iran. Secara fisik, sosok Julian tak ada bedanya dengan pemuda Inggris lainnya.

Namun, perilaku dan kebiasaan Julian, membuat Lucy tertarik. Julian tidak pernah minum minuman yang mengandung alkohol. Bahkan, segelas anggur pun tak akan disentuhnya. Kebiasaan ini tentu saja berbeda dan terlihat aneh dengan kebiasaan remaja Inggris, yang senantiasa menghabiskan akhir pekan dengan minuman keras dan mabuk-mabukan.

Perilaku Julian yang dianggapnya ‘tidak wajar’ ini membuat Lucy ingin mengetahui lebih jauh tentang sikapnya. Maka itu, pertemanannya dengan Julian, ia manfaatkan untuk bertanya tentang sikapnya dan Islam. Dari penjelasan-penjelasan yang diberikan Julian, membuat Lucy makin tertarik dengan ajaran yang dianut Julian.

Perlahan-lahan, Lucy mempelajari Islam dari berbagai buku dan orang Muslim di Inggris. Di waktu luang, Lucy mulai berani berkunjung ke sebuah masjid dekat Regent’s Park, London.
Penjaga masjid mengajaknya berkeliling masjid. Di akhir kunjungan, dia diberi buku berjudul What Everyone Should Know about Islam and Muslims. Buku tersebut, menurut Lucy, bisa menjawab beberapa pertanyaan yang selama ini berkecamuk di hatinya.

”Sebelum meninggalkan masjid, sekilas aku melihat tempat berdoa di dalam masjid. Tidak ada furniturnya, hanya ada karpet dari tembok ke tembok dan beberapa orang tampak sedang membaca doa dalam hati. Kulihat mereka tenang dan penuh pengharapan memanjatkan doa,” papar Lucy mengenang pengalaman pertamanya mengunjungi masjid.

Ketertarikannya untuk mengenal tentang Islam lebih jauh semakin kuat, manakala ia dan seorang temannya mendapat undangan makan malam dari sebuah keluarga Muslim berkebangsaan Israel. Saat itu, Lucy tengah mengikuti program kerja remaja Inggris pada sebuah komunitas Yahudi (kibbutz) di bagian utara Galilee di Israel.

Keluarga Muslim yang mengundangnya makan malam, jelas Lucy, adalah sebuah keluarga sederhana bahkan bisa dibilang memiliki kehidupan yang tergolong miskin.

”Mereka hanya punya dua ekor ayam di pekarangan mereka. Dan, mereka memotong satu ayam itu untuk kami. Kami menyantap hidangan yang sangat lezat dan tidak memberi mereka apa pun,” ujarnya.

Sekembalinya ke Inggris, ketertarikan Lucy terhadap Islam semakin kuat. Untuk menambah keyakinannya tentang Islam, Lucy memutuskan untuk bergabung dengan perkumpulan mahasiswa Muslim di lingkungan kampusnya, Universitas Cambridge. Padahal saat itu, ia belum memeluk Islam.

Lucy pun semakin giat mempelajari Islam dari berbagai buku bacaan, yang banyak mengulas ajaran Islam dan komunitas Muslim. Salah satu buku yang dibacanya adalah Islam: Beliefs and Teachings karya Sarwar G.

”Ibadah Muslim mulai sedikit masuk akal bagiku begitu aku tahu artinya dalam bahasa Inggris. Ikrar keimanan harus diucapkan berulang kali, setiap shalat lima waktu. Berpuasa satu bulan dalam setahun. Menyumbangkan hartanya sekali setiap tahun, dan mengunjungi Makkah sekali seumur hidup. Muslim boleh beribadah lebih dari semua itu, tetapi tak boleh mengurangi kewajiban pokok itu,” papar Lucy mengenang perkenalannya dengan ajaran Islam.
Menjadi Muslimah

Puncak di cinta ulam pun tiba. Bila hati sudah semakin mantap, apa pun tak akan mungkin melepaskannya. Begitulah kata pepatah. Ungkapan ini layak disematkan pada Lucy.

Suatu malam di bulan November 1991, Lucy tak bisa tidur nyenyak. Dia merasa gelisah. Kegelisahannya karena memikirkan tentang Tuhan. Berkali-kali ia membolak-balikkan badan dan berusaha memejamkan mata, tetap saja ia tak bisa tidur. Seakan-akan ada yang mengawasinya.

”Aku terjaga semalaman dengan pikiran berkecamuk tak henti-hentinya dalam kepalaku. Aku percaya pada Tuhan. Tuhan yang Serbatahu dan Mahakuat. Jika Tuhan Mahakuat, Dia pasti ada di mana-mana, dan itu berarti Tuhan juga bersamaku, saat ini. Jadi, Tuhan bisa melihatku dan Tuhan bisa melihat pikiran terdalamku. Itu benar-benar kabar buruk,” ujarnya menceritakan pengalaman yang terjadi di awal semester tahun keduanya di Cambridge.

Kegelisahannya itu membawanya untuk semakin dalam mempelajari Islam. Dan akhirnya, saat kemantapan hati itu semakin kuat, Lucy pun berikrar untuk menjadi seorang Muslim. Walau belum resmi, ia pelan-pelan mempelajari shalat.

Setelah benar-benar yakin, ia pun mengumumkan jati diri keislamannya seminggu kemudian. Bertempat di kamar asrama dan disaksikan sejumlah rekan-rekan sekampus, Lucy mengucapkan dua kalimat syahadat. ”Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah rasul Allah.”

Kabar keislamannya pun segera menyebar ke segenap kampus. Teman-temannya yang non-Muslim pun semakin banyak yang mengetahuinya. Maka, saat itu, Lucy resmi menyandang status Muslimah.

Orang tuanya baru mengetahui kabar keislamannya, ketika Lucy menyampaikan kepada mereka di saat liburan semester. Beruntung Lucy memiliki keluarga yang egaliter dan demokratis. Sang kakak, Julie, memberinya dukungan dan bersikap positif dengan keputusan Lucy menjadi Muslim.

Sementara itu, ayahnya berpikir bahwa apa yang terjadi pada Lucy hanyalah sebuah fase dalam kehidupan putrinya. Hanya sang ibu yang sempat kaget mengetahui anaknya memilih menjadi Muslimah. ”Bagaimana mungkin anaknya menjadi Muslimah?” Mungkin begitulah bayangan yang ada dalam pikiran ibunya saat itu.

Lucy nyaris bimbang. Di satu sisi, ia tidak ingin menyakiti dan menghancurkan hati ibunya. Apalagi, di Alquran dalam surah Al-Ahqaf ayat 15 disebutkan bahwa manusia hendaknya senantiasa berbuat baik kepada ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya selama sembilan bulan, dan melahirkannya dengan susah payah. Namun, apa hendak dikata, Lucy tetap mantap memilih Islam sebagai agama barunya. Dan, ia tetap menjalin hubungan baik dengan kedua orang tuanya, termasuk ibu yang sangat dicintainya.

Baginya, ibu adalah orang yang wajib dikasihi. Namun, ia juga sudah jatuh cinta dengan Islam. Dan, Islam mengajarkan untuk senantiasa mengajarkan pemeluknya menghormati kedua orang tua, kendati mereka berbeda agama.ed: sya

Hari-hari yang Penuh Tantangan

Sebagai mualaf, Lucy sangat serius menekuni ajaran Islam. Dia belajar shalat, mengenakan kerudung (jilbab), dan meninggalkan semua hal yang tidak diperbolehkan (dilarang) dalam ajaran Islam. Seperti, tidak mengonsumsi daging babi, minuman beralkohol, dan menghindarkan diri berduaan dengan yang bukan muhrimnya.

Kebiasaan yang tak umum ini, awalnya sangat sulit ia lakukan. Pasalnya, hal itu sudah merupakan kebiasaan sehari-hari. Bahkan, menurut adat istiadat dan budaya Barat, kebiasaan mengonsumsi minuman keras dan makan daging babi adalah sesuatu yang biasa saja. Lucy pun harus berhadapan dengan kebiasaan yang tak lazim ini di tengah kehidupannya sehari-hari.

Seperti, ketika ia memutuskan untuk menikah dengan Julian, di usianya yang masih terbilang muda, 19 tahun. Sebagaimana layaknya setiap pesta dalam kultur Barat yang wajib ada alkohol, tapi kini harus dihindari. Begitu juga, dengan makanan yang tersedia hanya yang terbuat dari bahan-bahan yang halal.

Benturan juga terjadi manakala Lucy harus memilih busana pengantin. Model yag ditawarkan selalu dengan bagian dada dan punggung terbuka. Sementara itu, ia menginginkan sebuah busana pengantin yang serba tertutup dan dilengkapi dengan kerudung. Hal ini sempat menimbulkan pertentangan antara Lucy dan sang ibu. Namun, Lucy sudah mantap untuk meyakinkan ibunya bahwa baginya hal itu adalah yang terbaik dan sesuai dengan ajaran Islam, yang telah menjadi keyakinannya.

Berbagai benturan lainnya, banyak ditemui Lucy takkala ia memasuki dunia kerja selepas menamatkan pendidikan di Cambridge. Setelah lulus kuliah, Lucy diterima bekerja di sebuah perusahaan consumer goods multinasional sebagai analis keuangan. Sebagai penganut agama minoritas di Inggris, kantornya tak menyediakan tempat shalat. Lucy lalu menyiasatinya dengan menumpang di ruang kesehatan untuk melakukan shalat. Saat ada pasien, sebagai gantinya ia kerap menggunakan ruangan bosnya untuk tempat shalat.

Demikian juga, ketika jam makan siang tiba. Menu nonhalal yang banyak disediakan oleh pihak pengelola kantin kantor, membuatnya harus memesan makanan terpisah, tanpa babi. Belum lagi, berbagai pertanyaan aneh dari para rekan kerjanya yang bingung melihat Lucy berkerudung.[republika]

Darren Cheesman, Hidayah Untuk Pemain Hoki Inggris

Dengan jari telunjuk kanan menunjuk ke arah langit, pekikan kalimat Allahu Akbar yang berarti Allah Maha Besar meluncur dari bibir Darren Cheesman. Bukan acungan jari telunjuk kanan yang menjadi semangat, melainkan sepenggal kalimat yang keluar dari mulut Darren menyambut perayaan kemenangan tim nasional hoki Inggris usia 21 (U-21) dalam ajang Olimpiade Junior 2007 di Sydney, Australia.

Tentu saja, kemenangan itu bagi Darren terasa menyenangkan. Selain menjadi ajang perpisahannya dengan dunia olahraga hoki yang selama ini telah membesarkan namanya, perayaan tersebut juga menjadi awal langkahnya menuju kehidupan baru. Sebuah kehidupan baru yang dilakoninya dalam delapan bulan terakhir.
Ya, dia adalah seorang mualaf. Sebagaimana dilansir laman muslimnews.co.uk, sejak memutuskan memeluk Islam pada awal 2007, sikap Darren di lapangan serta gaya hidupnya berubah drastis. Perubahan itu pula yan membuat semua prioritas dalam kehidupannya berubah.

Jika dahulu, karier sebagai pemain hoki menjadi prioritas utama dalam kehidupan Darren, kini tidak lagi. Ia menyadari betul bahwa dunia hoki internasional bukanlah gaya hidup yang paling cocok untuknya. “Saya ingin belajar lebih banyak tentang agama dan saya perlu waktu untuk melakukannya,” ujar Darren mengutarakan alasannya untuk pensiun dari dunia hoki profesional.

Para penggemar hoki di Inggris mungkin tidak akan lagi melihat aksi memukau Darren di lapangan. Yang ada di hadapan Anda saat ini adalah seorang pria kantoran dengan kemeja dan dasi melekat di tubuhnya. Pria kelahiran Hackney, London, 23 Februari 1986, ini memutuskan berhenti menjadi atlet hoki profesional dan lebih memilih berkarier sebagai account senior manager pada sebuah perusahaan penjualan ternama d Inggris. Padahal, usianya saat itu masih terbilang muda, yakni 21 tahun.

Dunia olahraga hoki baru ditekuni Darren saat usianya menginjak 11 tahun. Saat itu, Arsenal’s Sporting Community tengah menyelenggarakan program pencarian bakat dalam bidang olahraga. Bukan kepada olahraga sepakbola, namun hatinya justru tertambat pada olahraga hoki. Akhirnya, ia pun dikirim ke sebuah klub hoki untuk mengikuti program pelatihan selepas pulang sekolah.

Kepiawaian dalam bermain hoki membuat Darren diminta bergabung dalam tim hoki Kota Islington, di bawah asuhan Freddie Hudson, seseorang yang akan memainkan peran dalam kehidupan Darren. “Dia sudah seperti ayah bagi saya. Ia menggantikan sosok ayah yang tidak pernah ada di samping saya, ibu, dan adik saya,” ungkap Darren mengenai sosok Hudson.

Pada usia 16, Darren memulai karier profesionalnya sebagai pemain hoki dengan bergabung ke salah satu klub Divisi 1 Liga Nasional Inggris, Old Loughtonians Hockey Club, dengan menempati posisi sebagai gelandang. Karier yang cemerlang di Old Loughtonians Hockey Club membuatnya dilirik oleh salah satu klub Liga Utama Hoki Inggris, East Grinstead Hockey Club. Saat memperkuat East Grinstead Hockey Club ini, Darren terpilih sebagai Premier League Player of the Year pada 2004.

Hijrah ke Belanda Prestasi gemilang yang diraihnya ini membuat klub elite hoki asal Belanda, Oranje Zwart, meminangnya. Ia menghabiskan setahun bermain di sana. “Ini merupakan suatu kehormatan bagi saya bermain untuk Oranje Zwart. Beberapa pemain terbaik telah bermain di sana, termasuk pemain terbaik di dunia,” ujarnya. Saat bermain untuk Oranje Zwart inilah, ia berkenalan dengan Shahbaz Ahmed, legenda hoki Pakistan. Di dunia olahraga hoki, keandalan Shahbaz dalam menggiring bola tidak lagi diragukan.

Sepanjang kariernya, Shahbaz telah menerima berbagai penghargaan bergengsi dunia. Karena itu, tak mengherankan jika sosok atlet hoki berdarah Pakistan ini menjadi salah satu inspirator dalam kehidupan Darren.

“Anak-anak bermain sepak bola di taman bermain sambil berpura-pura seakan menjadi pemain sepak bola favorit mereka. Sementara itu, saya dan teman-teman berpura-pura menjadi Shahbaz dan itu masih kami lakukan,” kata Darren. Ketika memperkuat Oranje Zwart, Darren banyak berhubungan dengan teman-teman satu klubnya yang datang dari latar belakang dan budaya yang berbeda. Tidak mudah bagi Darren untuk bisa berbaur dengan mereka.

Justru di tengah-tengah perbedaan tersebut, ia menemukan perasaan damai dan bersahabat jika berbaur dengan teman-teman Muslimnya. Dan, sejak saat itu, ia mulai tertarik dan banyak bertanya mengenai Islam kepada rekan timnya. Keputusannya untuk memeluk Islam justru datang menjelang akhir karier Darren di dunia hoki internasional.

Selepas memperkuat tim nasional Inggris pada ajang Olimpiade Junior 2007 di Sydney, ia memutuskan untuk pensiun. “Saya sudah tertarik dengan Islam selama tiga tahun terakhir karena orang-orang di sekitar saya. Islam menjawab pertanyaan yang saya miliki dalam hidup saya dan juga pertanyaan yang belum ada di sana. Rasanya, saya telah menemukan jawaban atas segalanya dan saya tahu bahwa itu adalah kebenaran.”

Sebagai seorang Muslim, ia mengakui meneladani perilaku Nabi Muhammad SAW. “Saya mencoba untuk mengikuti apa yang dicontohkan Nabi Muhammad. Dia tidak pernah sedikit pun membalas orang-orang yang telah menyakitinya. Saya mencoba untuk mengikuti contoh itu dan tetap tenang di lapangan,” ujarnya.

Darren mengakui, agama Islam memberikan pengaruh besar dalam kehidupannya. Jika dahulu mudah tersinggung dengan ucapan lawan bicara, kini ia dengan sopan menyambut kritikan dan sindiran yang dialamatkan padanya.

“Saya jauh menjadi lebih tenang. Sebelumnya, ketika seseorang terus melakukan hal buruk, saya benar-benar panas dan marah. Termasuk, ketika saya harus berhadapan dengan pemain dari tim lawan,” tambah Darren. Baginya, Islam adalah agama yang senantiasa mengajarkan kedamaian dan persahabatan. Karena itu, tidak boleh ada yang merusaknya. [nidia zuraya/syahruddin]

Yvonne Ridley, Mengenal Islam dari Taliban

Apa perasaan Anda jika tertawan dan ditangkap musuh? Mungkin susah untuk membayangkan nasib Anda akan berakhir pada sebuah kebahagiaan. Apalagi, jika menghadapi tuduhan sebagai mata-mata, penyusup, dan lain sebagainya.

Namun, tidak demikian dengan yang dirasakan Yvonne Ridley, seorang wartawati Inggris. Perempuan paruh baya ini justru mengaku bahagia setelah ditangkap dan diinterogasi pasukan Taliban yang oleh media massa Amerika Serikat (AS), digambarkan sebagai kelompok Islam garis keras dan kejam.

Pengalaman Ridley di Afganistan saat ditangkap pasukan Taliban, justru membuatnya mengenal Islam lebih dalam. Dan, dengan bersentuhan langsung dengan kelompok Taliban, Ridley merasakan perbedaan dengan tuduhan yang dilontarkan. Ridley menyebut kelompok yang oleh banyak negara dicap sebagai teroris ini sebagai keluarga terbesar dan terbaik di dunia.

Dikisahkan, mantan guru sekolah Minggu yang juga mantan peminum (gemar mabuk) itu masuk Islam setelah membaca Alquran seusai dilepas oleh Taliban.Bekerja sebagai wartawan Sunday Express , surat kabar terbitan Inggris, pada September 2001 lalu, Ridley diselundupkan dari Pakistan ke perbatasan Afganistan untuk melakukan tugas jurnalistik. Saat itu, perempuan kelahiran Stanley, Distrik Durham, Inggris, tahun 1959 ini mencoba menyusup ke Afganistan secara ilegal. Tanpa paspor maupun visa.

Seperti dilansir dalam banyak pemberitaan di media massa, wartawati Inggris yang sudah kerap ditugaskan ke daerah-daerah konflik di dunia ini, tertangkap basah di sebelah timur Kota Jalalabad. Penyamarannya terungkap ketika ia jatuh dari seekor keledai persis di depan seorang tentara Taliban dan kameranya jatuh. Saat ditangkap, Ridley terlihat mengenakan  burqa , sejenis busana Muslimah tradisional Afganistan.

Yang ada di benaknya ketika tentara itu dengan marah mendatanginya adalah rasa takjub. ”Luar biasa tampan. Bola matanya hijau, khas bola mata dari daerah itu dan dengan jenggot yang tebal,” batinnya.Tak berselang lama, ketakutan mulai merayapinya. Ridley diinterogasi selama 10 hari tanpa diperbolehkan menggunakan telepon (ponsel) ataupun menghubungi anak perempuannya yang sedang berulang tahun ke-9.
Selama menjalani proses interogasi, Ridley mengaku tidak menyetujui apa yang dilakukan oleh kaum Taliban ataupun apa yang mereka percaya sebagai kebenaran. Awalnya, bagi Ridley, Taliban sama seperti yang digambarkan media massa Eropa tentang kelompok Islam ini.

Namun, perlakuan yang diterima Ridley selama menjalani masa penahanan dan interogasi justru mengubah semua pandangannya mengenai orang-orang Taliban. Menurutnya, anggapan umum kaum Taliban yang selama ini digambarkan sebagai monster sangat jauh dari realitas. ”Orang-orang Taliban adalah orang-orang yang baik dan mereka sangat ramah,” ujarnya.

Dalam acara keterangan pers yang digelar di Peshawar, Pakistan, seusai pembebasannya, Ridley menuturkan bahwa selama dirinya ditahan, secara fisik ia tak pernah diperlakukan dengan buruk oleh Taliban. Bahkan, perlakuan yang diterimanya tergolong cukup istimewa dibandingkan pesakitan para penghuni penjara lainnya.
Di dalam tahanan, Ridley dipisahkan dengan penghuni lainnya, termasuk para tahanan wanita. Selain itu, secara khusus, ruang tahanannya telah dibersihkan dari segala gangguan kecoa dan kalajengking. Berbeda dengan sel di sebelahnya, kamar di balik terali itu tetap kotor seperti biasanya, kata Ridley.

Atas pengakuan Ridley ini, banyak pihak yang mengatakan ibu dari seorang putri bernama Daisy ini terkena  Sindrom Stockholm , di mana sandera malah kemudian memihak penyandera. Tetapi, ia membantahnya, ”Saya membenci mereka yang menangkap saya. Saya meludahi mereka, kasar terhadap mereka dan menolak makan. Saya tertarik Islam hanya ketika saya sudah bebas,” katanya menegaskan.

Kagum dengan Alquran

Dalam sebuah wawancara kepada situs Islamonline beberapa waktu lalu, Ridley mengungkapkan saat menjadi tawanan Taliban, seorang ulama mendatangi dirinya. Sang ulama menanyakan beberapa pertanyaan tentang agama dan menanyakan apakah ia mau pindah agama.

”Saat itu, saya takut kalau saya salah memberikan respons, saya akan dibunuh. Setelah berpikir masak-masak, saya berterima kasih pada ulama tadi atas tawarannya yang baik itu. Dan, saya bilang bahwa sulit bagi saya membuat keputusan untuk mengubah hidup saya saat sedang menjadi tawanan,” paparnya.

Kepada sang ulama, Ridley berjanji akan mempelajari agama Islam setelah dibebaskan dan kembali ke London. Begitu kembali ke Inggris, Ridley membaca Alquran melalui terjemahannya untuk mencoba memahami pengalaman yang baru dilewatinya.”Saya luluh dengan apa yang saya baca. Tak ada satu pun yang berubah dari isi buku ini, baik titiknya maupun yang lain sejak 1.400 tahun yang lalu,” ungkapnya.

Dalam mempelajari Islam, Ridley memilih surat-surat dalam Alquran hanya yang ingin ia baca. Ia sangat mengagumi hak-hak yang diberikan Islam pada kaum perempuan dan inilah yang paling membuat dirinya tertarik pada Islam. Dalam buku yang ia tulis setelah pembebasannya, Ridley menceritakan bahwa dirinya juga sempat menemui Dr Zaki Badawi, ketua Islamic Centre London, dan berdiskusi dengannya seputar ajaran Islam.

Dari sinilah kemudian Ridley memutuskan untuk memilih Islam sebagai keyakinan barunya. Proses keislaman Ridley ini terjadi pada tahun 2003 silam. Mengenai pilihannya ini, Ridley mengungkapkan bahwa dirinya telah bergabung dengan apa yang ia anggap sebagai keluarga terbesar dan terbaik yang ada di dunia ini.

Bagaimana reaksi orang tuanya yang beragama Protestan Anglikan saat Ridley masuk Islam? ”Pada awalnya, keluarga dan teman saya khawatir, tetapi ketika mereka melihat bagaimana bahagianya saya. Saya lebih sehat dan merasa hidup saya lebih punya arti, mereka sangat senang,” papar Ridley.

Kebahagiaan, ungkap Ridley, terutama dirasakan sang ibu ketika ia memeluk Islam. Kebahagiaan tersebut disebabkan semenjak menjadi seorang Muslimah, Ridley memutuskan untuk meninggalkan kebiasaannya minum minuman keras. ”Ibu saya sangat gembira, karena saya sudah tak minum lagi.”

Setelah memeluk Islam, Ridley memutuskan untuk mengenakan baju Muslim dan jilbab. Ia pun hingga kini masih menjalankan profesinya sebagai seorang wartawan. Dedikasi Ridley sebagai wartawan memang tak diragukan lagi. Muslimah ini pernah bekerja pada sederet media bergengsi, seperti  News of the World, The Daily Mirror, The Sunday Times, The Observer, The Independent, dan  Sunday Express.

Redaktur  Sunday Express , Martin Townsend, pernah mengungkapkan komentarnya mengenai Ridley, ”Dia adalah seorang jurnalis yang sangat berpengalaman dan berani.” Sementara itu, Colin Patterson, wakil redaktur dari  Sunday Sun, menyebutnya sebagai pribadi yang hangat dan suka bersahabat.

Pascatragedi Lockerbie sembilan tahun lalu, Ridley adalah wartawan pertama yang berhasil mewawancarai Ahmad Jibril, pemimpin populer Front for the Liberation of Palestina (Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina). dia/berbagai sumber

Erik Meijer : Islam Itu Bisa Diterima Logika

Perkenalannya dengan Islam bermula dari obrolan yang sering dilakukan dengan pacar sang adik tatkala berkunjung ke rumah orang tuanya di Belanda. Dari awalnya sekadar membicarakan masalah-masalah umum, obrolan tersebut berkembang menjadi sebuah diskusi panjang tentang agama yang dianut oleh pacar sang adik.

”Kebetulan adik saya pacaran dengan orang Turki. Turki itu kan mayoritas Islam. Dari dia, saya banyak mengetahui tentang Islam,” ujar Erik Meijer mengenang peristiwa 20 tahun lalu dalam hidupnya.

Ketertarikannya akan agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW ini semakin besar, saat Erik pindah ke Indonesia. Sebagai sebuah negara berpenduduk mayoritas Muslim, ia melihat ajaran Islam di Indonesia lebih hidup dibandingkan di negaranya, negeri kincir angin, Belanda.

Meskipun saat awal tinggal di Indonesia masih memeluk agama katolik, Erik sudah tidak aktif datang ke gereja. ”Karena dalam keseharian, saya melihat ajaran Islam benar-benar menghidupi masyarakat di sini (Indonesia–Red). Dari situ, kemudian saya mulai merasa ada sesuatu yang hilang,” tuturnya.

Terlebih lagi, bagi dia sebagai seorang pribadi yang menilai segala sesuatunya dengan logika, menurut Erik, semua ajaran dalam agama Islam masuk akal. Contohnya, kewajiban untuk berpuasa. Ia melihat ada filosofi di belakang kewajiban berpuasa, baik dari sisi spiritual maupun fisik.

Allah lalu mempertemukan Erik dengan Maudy Koesnaedi yang di kemudian hari menjadi istrinya. Selama menjalin pertemanan dengan mantan none Jakarta tahun 1993 yang juga berprofesi sebagai artis ini, ia banyak dikenalkan kepada ustadz dan cendekiawan Muslim di Tanah Air. Salah satunya adalah Ustadz Othman Umar Shihab dan (Alm) Nurcholis Madjid (Cak Nur).

Walaupun Maudy berasal dari keluarga pemeluk Islam, menurut Erik, istrinya itu tidak pernah memaksa dia untuk berpindah keyakinan. Di matanya, Maudy adalah sosok perempuan yang tidak suka menggurui dan sok tahu.

Sang istri hanya memberikan jalan dan peluang untuknya mempelajari Islam lebih jauh. ”Kalau kamu memang tertarik dengan Islam, kamu harus mempelajarinya,” kata ayah satu orang putra ini mengutip perkataan sang istri kala itu.

Setelah mempelajari Islam selama lima tahun lamanya, Erik merasa mantap dan yakin untuk memilih agama Islam sebagai jalan hidupnya. Dengan difasilitasi oleh Ustadz Othman Umar Shihab, ia mengucapkan dua kalimat syahadat pada Februari 2001 silam. ”Saya berikrar masuk Islam disaksikan Cak Nur (alm) ketika itu,” ungkapnya.

Erik cukup beruntung. Keputusannya untuk memeluk agama Islam tidak mendapat tentangan dari kedua orang tuanya. Dalam hal memilih keyakinan, diakuinya, kedua orang tuanya lebih moderat. ”Bagi mereka, semua agama pada dasarnya sama, mengajarkan kebaikan.” Bahkan, dari sang adik, ia mendapatkan dukungan penuh. Adik perempuan satu-satunya ini memang sudah lebih dahulu menyatakan masuk Islam dibandingkan dirinya.

Hambatan justru datang dari teman-teman pergaulannya. Mengetahui Erik masuk Islam, seorang teman membujuknya untuk meninggalkan agama Islam dan kembali pada agama Katolik. ”Mungkin mereka kecewa dengan keputusan saya ini. Tapi, saya anggap itu hal yang wajar,” tukasnya.

Begitu masuk Islam, kendala yang ia temui pertama kali terkait dengan perbedaan bahasa. Kitab suci umat Muslim yang menggunakan bahasa Arab, membuatnya kesulitan untuk bisa cepat mengingat dan menghapal bacaan dalam shalat. Untuk bisa hapal surat al-Fatihah, kata Erik, ia butuh waktu tiga hingga empat bulan.
Kesulitan untuk bisa menghapal dengan cepat surat-surat lain dalam Alquran masih ia rasakan sampai saat ini. ”Terlebih lagi, di usia saya yang sudah kepala tiga. Mungkin akan berbeda kalau saya menghapalnya saat usia masih dini, seperti anak saya,” ujarnya.

Demikian juga, dengan kewajiban shalat. Butuh waktu agak lama bagi Erik untuk mengingat urutan gerakan dalam shalat. Terkadang saat sedang melakukan shalat, seringkali ia lupa gerakan berikutnya. Beruntung sang istri dengan sabar mau membimbingnya dalam menjalankan ibadah.

Begitu pun, dengan beberapa orang kenalan dekatnya yang siap membantu. ”Seperti, Pak Arief Rachman yang bersedia menuliskan potongan-potongan surat al-Fatihah dalam kartu ukuran kecil sehingga ke mana pun bisa saya kantongi dan bisa saya hapal setiap ada kesempatan,” terangnya.

Namun, tidak sepenuhynya ia menemui kesulitan. Waktu lima tahun yang ia gunakan untuk mengenal Islam lebih jauh, dirasakannya berguna saat menjalankan semua perintah Allah SWT, manakala dirinya sudah masuk Islam secara resmi. Contohnya, dalam menjalankan ibadah puasa, ia tidak menemui hambatan sama sekali. Pasalnya, jauh sebelum masuk Islam, ia sudah mulai belajar untuk berpuasa. Meskipun, diakui Erik, yang dijalankannya saat itu belum benar-benar puasa dalam arti sesungguhnya.

”Jam tujuh pagi saya tetap sarapan. Jadi, hanya sekadar tidak makan di siang hari demi menghormati teman-teman yang sedang berpuasa. Waktu itu, rasanya memang berat sekali meskipun sudah curi start tiga hingga empat jam di awal. Namun, begitu menjalankan puasa secara resmi, pakai niat, sahur, dan shalat, ternyata jauh lebih mudah dan lancar. Mungkin di situ bedanya kalau kita sekadar ikut-ikutan,” paparnya.
Meskipun sudah memeluk Islam selama delapan tahun, diakui Erik, hingga saat ini ia masih jauh dari sempurna. Dia merasa belum benar-benar berusaha untuk mendalami lebih jauh mengenai ajaran Islam. Waktunya yang lebih banyak tersita untuk urusan pekerjaan, membuat intensitasnya untuk mendalami surat-surat dalam Alquran berkurang.

”Dalam mempelajari Alquran, saya selalu berpegang pada falsafah tidak hanya sekadar menghapal dan membacanya, tetapi juga harus mengetahui arti dan maknanya,” tuturnya.

Kendati demikian, ia berusaha untuk terus meramaikan syiar Islam di lingkungan tempatnya bekerja. Salah satunya, dengan menyelenggarakan kegiatan majelis taklim dan pengajian bagi para karyawan. Sementara untuk lingkup yang lebih luas, melalui perusahaan tempatnya bekerja, Erik menyelenggarakan lomba cipta kreasi lagu Islam. [nidia zuraya/kem/republika]